KoranInternet.com

E-Learning

KoranInternet mulai sekarang menyajikan layanan baru kepada para pembaca, terutama kepada masyarakat akademis berupa program E-learning yang berisi paparan serial dua bidang mata pelajaran, yaitu Ekonomi Perusahaan dan Tata Buku.

Ekonomi Perusahaan
» All Nippon Airways Jadi Maskapai Terkemuka Jepang
 

Tata Buku
»Tata Buku 11
 

Editorial
Hasil Pemilu Dan Perubahan

Sebelum pemilu hampir semua orang menginginkan pemilu akan menghasilkan Legislatif dan Eksekutif yang membawa perubahan. Perubahan yang didambakan adalah :

BISNIS & EKONOMI»
»Saham Jepang Dibuka Naik 1,06 Persen

»Saham AS Ditutup Naik Meskipun Laporan Fed 'Suam-Suam'

»Saham Eropa 'Rebound'

POLITIK & HUKUM»
»Polisi India Tangkap Tokoh Separatis Kashmir

»18 Gerilyawan Tewas Dalam Serangan Udara AS di Pakistan

»Sembilan Pemberontak Kurdi, Tentara Turki Tewas Dalam Bentrokan

BERITA UMUM»
»Nort West Diduga Tutupi Kecelakaan Kerja

»Dua Warga Terluka Kena Semburan Gas Lapindo

»Gempa 4,7 SR Guncang Kota Palu

LUAR NEGERI»
»Kelompok Pembangkang Florida Tetap Akan Bakar Al Qur'an

»Arab Saudi, Arab Teluk Rayakan Idul Fitri Jum'at

»Sedikitnya 15 Orang Ditembak Hingga Tewas di Pabrik Sepatu Honduras

OLAH RAGA»
»Hasil Lengkap Nomor Ganda Tenis AS Terbuka

»Hasil Etape Ke-11 Balap Sepeda Tur Spanyol

»Real Madrid Laporkan 'Rekor Dunia' Pendapatan

 

Tata Buku 11
Jumat, 02 Juli 10

10. Neraca Kolom bagian 2

Setelah neraca saldo tersusun, akan selalu ada kebutuhan melakukan perubahan-perubahan pada angka-angka tertentu sebelum digarap lebih lanjut.

Perubahan-perubahannya harus dimasukkan ke dalam Buku Besar melalui penjurnalan. Karena penjurnalan ini dilakukan sebelum penyusunan neraca dan perincian rugi/laba, maka pos-pos jurnal tersebut disebut “pos-pos jurnal yang mendahului”.

10.1 Pos-Pos Jurnal Yang Mendahului

Dalam bab-bab sebelumnya, kita mengambil alih mentah-mentah (apa adanya) semua angka yang berasal dari neraca saldo ke dalam neraca dan perincian rugi/laba.

Yang merupakan perkecualian hanyalah perkiraan 040 Modal Sendiri dan 041 Prive, yang digarap secara khusus.

Biasanya perlu dilakukan perubahan-perubahan pada angka-angka neraca saldo sebelum neraca dan perincian rugi/laba dapat disusun.

Perubahan-perubahan tersebut perlu dilakukan karena beberapa alasan sebagai berikut :

  • Lupa membukukan beberapa data finansial dari periode sebelumnya.
  • Beberapa data finansial dari periode sebelumnya salah dibukukan.
  • Saldo pada suatu perkiraan buku besar yang membukukan kekayaan (misalnya perkiraan “Kas” dan “Persediaan Barang”) tidak sesuai dengan kenyataan.
Perubahan-perubahan yang kita lakukan pada angka-angka dalam neraca saldo harus dijurnal. Maka penjurnalan ini kita lakukan setelah neraca saldo tersusun, tetapi sebelum menyusun neraca dan perincian rugi/laba. Maka kita namakan “pos-pos jurnal yang mendahului”, karena penjurnal ini dilakukan sebelum kita menyusun neraca dan perincian rugi/laba.

Setelah melakukan penjurnalan yang mendahului dalam jurnal, barulah perkiraan-perkiraan buku besar yang bersangkutan digarap lebih lanjut.

Dengan demikian, angka-angka dari beberapa perkiraan buku besar yang tercantum dalam neraca saldo juga mengalami perubahan. Untuk mencapai tujuan tersebut, neraca saldo ditambah dengan perubahan-perubahannya dijadikan neraca saldo yang telah diubah/disesuaikan dengan kenyataan.

Neraca kolomnya menjadi sebagai berikut:

Dalam paragraf berikutnya kita jelaskan menggunakan penjurnalan yang mendahului dengan menggunakan beberapa contoh.

10.2 Pos-pos yang Lupa Dibukukan, dan Karenanya Masih Harus Dibukukan
Contoh 1

Sebagian dari neraca saldo per 31 Desember 2009 dari perusahaan dagang “Roda Makmur” sebagai berikut:

Setelah neraca saldo disusun baru terungkap bahwa :
  1. Ada penggunaan barang-barang untuk prive sebesar :
    Rp. 18.000.000 + Rp. 3.420.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 21.420.000
  2. Nota kredit yang dikirimkan di bulan Desember telah digarap ke dalam pembukuan. Tetapi data tentang barang yang ditarik kembali tidak dibukukan. Harga pembelian dari barang-barang ini Rp. 45.000.000.
  3. Ada nota kredit yang lupa dibukukan :
    Jumlahnya Rp. 30.000.000 + Rp. 5.700.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 35.700.000
  4. Saldo-saldo dari perkiraan nomor 180 dan 181 yang belum dikoreksi harus dipindahbukukan ke perkiraan 182 Pajak Penjualan Yang Masih Harus Diserahkan.
Ditanyakan :
  1. Berikan pos-pos jurnal yang mendahului
  2. Susun neraca saldo yang telah diperbaiki.
Jawaban :





Mengerjakan Penjurnalan yang Mendahului pada Neraca Saldo Awal

Dalam hal pos-pos jurnal yang mendahului tidak terlalu banyak, cara kerjanya juga dibuat lebih sederhana, yaitu koreksinya dikerjakan pada neraca saldo awal dengan menggunakan warna atau tipe huruf yang lain.

Contoh 2

Dalam Neraca Saldo Percetakan “Sejahtera” per 31 Desember 2009, antara lain terdapat perkiraan-perkiraan sebagai berikut:


Setelah neraca saldo tersusun baru ketahuan bahwa penggunaan barang untuk prive yang telah dibukukan sejumlah Rp. 30.000.000, ternyata lupa memperhitungkan pembebanan pajak penjualan sebesar 6%.

Ditanyakan :
  1. Berikan jurnal yang mendahului
  2. Garap koreksi yang sudah dilakukan ke dalam neraca saldo
Jawaban :
  1. Jumlah pajak penjualan yang masih harus dibukukan sebesar 6% dari Rp. 30.000.000 = Rp. 1.800.000.
Percetakan “Sejahtera” membuat jurnal yang mendahului sebagai berikut :


041 Prive
Rp. 1.800.000

Pada 181 Pajak Penjualan yang Masih Harus Dibayar

Rp. 1.800.000


10.3 Mengkoreksi Pos-pos Jurnal yang Salah

Kita bertitik tolak dari adanya keseimbangan antara debit dan kredit dalam jurnal, buku besar, neraca percobaan dan neraca saldo.

Ketika mengkontrol lebih dalam ternyata bahwa telah dilakukan kesalahan dalam penjurnalan. Kesalahan-kesalahan tersebut dibetulkan dengan membuat pos-pos jurnal yang mendahului, yang dalam hal ini disebut pos-pos jurnal koreksi atau pos-pos koreksi.

Dalam rangka membuat jurnal koreksi kita harus mempertanyakan hal-hal sebagai berikut:
  1. Apa yang seharusnya dijurnal?
  2. Apa yang kenyataannya dijurnal ?
Koreksinya adalah : (a) – (b), atau Seharusnya – Yang Dilakukan = Koreksi

Contoh 3

Dalam bulan tertentu telah dibayar sewa gudang melalui bank Rp. 8.500.000. Transaksinya dibukukan dengan benar, tetapi jumlahnya Rp. 5.800.000.

Ditanyakan : Buat jurnal koreksinya.

Jawaban :

Yang seharusnya dibukukan :

440 Biaya sewa
Rp. 8.500.000

Pada 110 Bank

Rp. 8.500.000

Yang dibukukan :

440 Biaya sewa
Rp. 5.800.000

Pada 110 Bank

Rp. 5.800.000

Koreksi yang harus dilakukan pada perkiraan nomor 440 dan 110 adalah sebagai berikut:

440 Biaya sewa


Seharusnya
Debit
Rp. 8.500.000
Dibukukan
-/- Debit
Rp. 5.800.000
Koreksi
Debit
Rp. 2.700.000


110 Bank


Seharusnya
Kredit
Rp. 8.500.000
Dibukukan
-/- Kredit
Rp. 5.800.000
Koreksi
Kredit
Rp. 2.700.000

Pos jurnal koreksinya adalah:

440 Biaya sewa
Rp. 2.700.000

Pada 110 Bank

Rp. 2.700.000

Menemukan data yang harus dikoreksi, dapat diperoleh dengan membuat tabel sebagai berikut:



Kolom terakhir menunjukkan bagaimana pos jurnal koreksinya harus dibuat

Contoh 4

Ketika membukukan sebuah faktur sejumlah Rp. 40.000.000 + Rp. 7.600.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 47.600.000, dibukukan pada perkiraan 181 Pajak Penjualan yang masih dibayar, yang seharusnya Pajak Penjualan yang masih harus ditagih.

Ditanyakan: Buat pos jurnal koreksinya

Jawaban:

Yang seharusnya dibukukan:
700 Persediaan barang Rp. 40.000.000

180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
Rp. 7.600.000

Pada 140 Kreditur

Rp. 47.600.000

Yang telah dibukukan:

700 Persediaan barang Rp. 40.000.000

181 Pajak Penjualan yang masih harus dibayar
Rp. 7.600.000

Pada 140 Kreditur

Rp. 47.600.000

Perkiraan-perkiraan yang harus dikoreksi kami gambarkan dalam sebuah tabel sebagai berikut:



Pos jurnal koreksinya adalah:


180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
Rp. 7.600.000

Pada 181 Pajak Penjualan masih harus dibayar

Rp. 7.600.000

Contoh 5

Faktur dengan jumlah Rp. 23.800.000 (termasuk Pajak Penjualan Rp. 3.800.000) dibukukan dengan jumlah Rp. 32.800.000 (termasuk Pajak Penjualan Rp. 3.800.000)

Ditanyakan : Buat pos jurnal koreksinya

Jawaban:

Yang seharusnya dibukukan:


700 Persediaan barang
Rp. 20.000.000

180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
Rp. 3.800.000

Pada 140 Kreditur

Rp. 23.800.000

Yang telah dibukukan:


700 Persediaan barang
Rp. 29.000.000

180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
Rp. 3.800.000

Pada 140 Kreditur

Rp. 32.800.000

Tabel koreksi



Pos jurnal koreksi


140 Kreditur
Rp. 9.000.000

Pada 700 Persediaan Barang

Rp. 9.000.000

Contoh 6

Telah dibayar melalui Bank, biaya listrik sebesar Rp. 8.000.000 + Rp. 1.520.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 9.520.000, yang semuanya dibebankan pada perusahaan. Seharusnya, ¼ dari jumlah ini harus dibebankan pada Prive.

Ditanya: Buat pos jurnal koreksinya

Jawaban:

Yang seharusnya dibukukan:


490 Biaya umum (3/4 x Rp. 8.000.000)
Rp. 6.000.000

180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih (3/4 x Rp. 1.520.000)
Rp. 1.140.000

041 Prive (1/4 x Rp. 9.520.000)
Rp. 2.380.000

Pada 120 Bank

Rp. 9.520.000
Yang telah dibukukan:

490 Biaya umum
Rp. 8.000.000

180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
Rp. 1.520.000

Pada 120 Bank

Rp. 9.520.000

Tabel Koreksi



Jurnal Koreksi:


041 Prive
Rp. 2.380.000

Pada 490 Biaya umum

Rp. 2.000.000
180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih

Rp. 380.000

Catatan:
  • Pada awal bab ini diasumsikan bahwa kesalahan yang dilakukan baru ketahuan setelah neraca percobaan dan neraca saldo tersusun. Pos-pos jurnal koreksi yang dibuat mempunyai karakter jurnal yang mendahului. Dengan sendirinya bahwa kesalahan penjurnalan yang dibuat dalam periode pembukuan dapat dibetulkan dengan pos-pos jurnal koreksi.
  • Aplikasi dari pos-pos jurnal koreksi ke dalam neraca kolom kita bahas dalam bagian 10.5.
10.4 Selisih Kurs dan Selisih Persediaan Barang

Dalam Tata Buku 05 kita kemukakan bahwa barang-barang yang nyata (tangible) yang tercantum pada neraca saldo dapat dikontrol dengan inventarisasi.

Sebagai contoh dari kontrol semacam itu dalam paragraf ini kita bicarakan :
  • Kontrol pada persediaan uang tunai
  • Kontrol pada persediaan barang
Dengan kontrol tersebut dapat kita ketahui apakah persediaan barang yang tercantum dalam administrasi pembukuan cocok dengan stok barang yang ada.

Andaikan bahwa uang tunai yang tercatum dalam perkiraan 100 Kas sebesar Rp. 64.000.000, sedangkan yang ada di dalam kas sebesar Rp. 62.500.000. Maka ada selisih kas negatif sebesar Rp. 64.000.000 – Rp. 62.500.000 = Rp. 1.500.000.

Kalau selisih ini tidak dapat dijelaskan, kita membuat jurnal sebagai berikut:


480 Selisih kas
Rp. 1.500.000

Pada 100 Kas

Rp. 1.500.000

Contoh 7

Neraca saldo perusahaan dagang “Permata” per 31 Desember 2009 adalah sebagai berikut:



Angka-angka dari tabel di atas menunjukkan jumlah uang tunai dan jumlah persediaan barang yang harus ada pada tanggal 31 Desember 2009.

Untuk mengetahui apakah barang-barang tersebut benar-benar ada, pemilik melakukan inventarisasi.

Inventarisasi menemukan bahwa jumlah-jumlah barang yang secara fisik ada adalah sebagai berikut:

Uang tunai di Kas Rp. 40.600.000

Persediaan barang Rp. 338.000.000

(jumlah satuan x harga beli)

Ditanya :
  1. Hitung posisi pada tanggal 31 Desember 2009:
  2. selisih kas
  3. selisih stok barang
Katakan apakah selisihnya negarif (merugikan) atau positif (menguntungkan)
  1. Buat jurnal koreksinya.
Jawaban:
  1. Posisi tanggal 31 Desember 2009 :
    1. Kas menurut neraca saldo Rp. 39.000.000
      Kas yang ada Rp. 40.600.000
      Selisih positif Rp. 1.600.000
    2. Persediaan barang menurut neraca saldo Rp. 350.000.000
      Persediaan barang yang ada Rp. 338.000.000
      Selisih negatif Rp. 12.000.000
  2. Jurnal koreksinya sebagai berikut:
    1. untuk selisih kas
      100 Kas
      Rp. 1.600.000

      Pada 480 Selisih Kas

      Rp. 1.600.000

    2. untuk selisih Stok barang:
      481 Selisih stok barang
      Rp. 12.000.000

      Pada 700 Stok barang

      Rp. 12.000.000

Catatan:
  1. Selisih Kas dan selisih Stok barang yang terjadi dan ketahuan sebelum tersusunnya neraca saldo dapat segera dikoreksi dengan cara yang sama.
  2. Aplikasi jurnal yang mendahului yang mengandung selisih Kas dan selisih Stok barang pada waktu menyusun neraca kolom kita bahas dalam bagian 10.5.
10.5 Sebuah Contoh dari Neraca Kolom dengan Pos-pos Jurnal yang Mendahului Secara Lengkap

Contoh 8

Neraca saldo per 31 Desember 2009 dari sebuah perusahaan dagang “Five Star” sebagai berikut:


Setelah neraca saldo tersusun baru ketahuan bahwa:
  1. Penggunaan barang untuk keperluan prive sebesar Rp. 20.000.000 + Rp. 3.800.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 23.800.000 belum dibukukan.
  2. Ketika uang tunai yang ada dihitung ternyata jumlahnya Rp. 30.800.000
  3. Nota kredit yang dikirimkan dengan jumlah Rp. 8.000.000 + Rp. 1.520.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 9.520.000 dijurnal sebagai berikut:
    140 Kreditur
    Rp. 9.520.000

    Pada 700 Persediaan barang

    Rp. 8.000.000
    Pada 181 Pajak Penjualan yang masih harus dibayar

    Rp. 1.520.000

    Tidak terjadi pengembalian barang (retur) -

  4. Saldo-saldo yang dikoreksi pada perkiraan 180 dan 181 harus dipindah bukukan ke perkiraan 182 Pajak Penjualan yang masih harus diserahkan
  5. Penerimaan uang restitusi pajak penghasilan melalui Bank sebesar Rp. 15.000.000 untuk pemilik perusahaan dikreditkan pada perkiraan 460 Pajak-Pajak.
  6. Pada inventarisasi persediaan barang per 31 Desember 2009 nilainya Rp. 1.098.000.000
  7. Potongan harga yang diberikan sebesar Rp. 16.000.000 dibukukan pada perkiraan 840 Hasil Penjualan, padahal seharusnya dibukukan pada perkiraan 830 Potongan Harga pada Penjualan.
Ditanyakan:
  1. Berikan pos-pos jurnal yang mendahului
  2. Susun neraca kolom yang sudah memasukkan ke dalamnya:
    1. Neraca saldo awal yang telah diberikan per 31 Desember 2009
    2. Pos-pos jurnal yang mendahului
    3. Neraca saldo yang sudah diubah per 31 Desember 2009
    4. Perincian rugi/laba untuk tahun 2009
    5. Neraca per 31 Desember 2009
Jawaban:




2.

10.6 Neraca Kolom dengan Pos-pos Jurnal yang Mendahului dalam Pembukuan yang Sudah Dikomputerisasi

Dalam pembukuan yang sudah dikomputerisasi kita juga dihadapkan pada keharusan melakukan perubahan-perubahan.

Perubahan-perubahan menjadi keharusan karena telah kelupaan membukukan beberapa data finansial, atau telah terjadi selisih kas dan selisih persediaan barang. Keharusan melakukan perubahan ini sama dan telah kita alami dalam membahas pembukuan secara manual.

Koreksi yang disebabkan oleh kesalahan dalam membukukan jarang terjadi dalam pembukuan yang sudah dikomputerisasi dibandingkan dengan pembukuan yang masih secara manual. Ini disebabkan karena dalam program (software) komputer telah dimasukkan saringan terhadap kesalahan melakukan key in data.

Dalam melakukan key in faktur penjualan atau nota kredit penjualan tidak mungkin terjadi kelupaan membukukan ke dalam perkiraan 180 Pajak Penjualan ditagih, karena programnya dengan sendirinya menggarap perkiraan 181 Pajak Penjualan yang masih dibayar.

Namun komputerisasi tidak dapat menghilangkan terjadinya berbagai kesalahan dalam data yang di-key in. Misalnya, kalau kita meng-key in faktur pembelian senilai 10.000 kita key ini dengan angka 10.000.000, komputer tidak bisa dengan sendirinya mengkoreksinya.

Dalam Tata Buku 05 telah kita pelajari bahwa kesalahan dalam key ini dapat kita kenali dengan print out dari data yang kita key in. Kesalahan yang telah dikenali dapat dengan mudah dikoreksi. Angka yang salah di key in dapat dipanggil dan diganti dengan angka yang benar.

Setelah melakukan koreksi tersebut kita bisa melakukan print out lagi dari data yang baru dimasukkan, dan melalui print out ini kontrol dapat kita lakukan.

Kesalahan-kesalahan yang kita kenali pada tahapan seperti ini dapat kita koreksi dengan cara yang telah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya. Biasanya koreksi dilakukan dengan cara:
  • Membukukan kembali data tidak tepat menggantikan yang salah.
  • Meng-key in data yang tepat
Jurnal koreksi seperti yang harus dilakukan dalam pembukuan secara manual tidak perlu dilakukan.

Dalam beberapa program, kita bisa melakukan koreksi terhadap data salah yang telah kita key in, yang segera digarap secara otomatis ke dalam pembukuan.

  lihat komentar (0) |   kirim ke teman |   versi cetak

Formulir Komentar

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

»Tata Buku 10
»TATA BUKU 09
»TATA BUKU 08
»Tata Buku 07
»TATA BUKU 06


»Zvonareva Pertama Kali Mencapai Semi Final Tenis AS Terbuka
»Djokovic Mencapai Semi Final AS Terbuka Keempat Berturut-Turut
»Warga Keputran Pasuruan Telah Laksanakan Shalat Id
»Cedera Lutut Paksa Balotelli Absen Hingga Enam Pekan
»Korea Selatan Pertahankan Suku Bunga Utama


 
Pengantar Redaksi

Dua serial tulisan yang terdahulu, yaitu Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak tahun 1967 dan Pemberantasan KKN telah lengkap kami tayangkan dalam waktu yang cukup lama.

Dalam edisi ini kami menyajikan bahasan tentang Krisis Keuangan maha dahsyat yang terjadi di Amerika Serikat, menjalar ke semua negara di dunia yang sampai sekarang masih berlangsung.

Serial lainnya berjudul "Platform Presiden 2009". KoranInternet mempunyai keseluruhan materinya, yang akan kami terbitkan dalam bentuk buku yang dapat diperoleh siapa saja yang berminat.

Dengan memuat materi yang sama dalam bentuk rangkaian artikel di KoranInternet, para pembaca dapat membacanya, sambil setiap harinya membaca berita dan peristiwa.

Pembaca E-Learning yang kami sajikan dalam bidang Tata Buku dan Ekonomi Perusahaan semakin lama semakin banyak.

Banyak terima kasih atas perhatian Anda.

Redaksi.

Analisis
Sri Mulyani Indrawati (SMI), Berkeley Mafia, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), IMF Dan World Bank (WB)

Mundurnya Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai Menteri Keuangan RI menimbulkan kehebohan dan banyak pertanyaan tentang ...
Baca selengkapnya »

Pidato CGI 4 (dalam bahasa Inggris)

MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS


ADDRESS AT THE PRE-CGI MEETING
Jakarta, 10 December 2003

State Minister for ...
Baca selengkapnya »

 
Pidato CGI 3 (dalam bahasa Inggris)

MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

IMPROVING GOVERNANCE
Consultative Group for Indonesia
Bali, 22 January, 2003
Kwik Kian Gie


Mr. ...
Baca selengkapnya »

 
Pidato CGI 2 (dalam bahasa Inggris)

MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS


EFFECTIVE USE OF FOREIGN AID

Minister of Development Planning/Head of Bappenas
Pre-CGI ...
Baca selengkapnya »

Pidato CGI 1 (dalam bahasa Inggris)

MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS



Statement of the State Minister for National Development Planning/
Chairman of ...
Baca selengkapnya »

SKANDAL BANK CENTURY - Mengapa Menimbulkan Banyak Keresahan dan Kemarahan?

PENGANTAR

Pemeriksaan oleh Pansus Bank Century berlangsung secara terbuka yang diliput oleh media ...
Baca selengkapnya »

PRODUK DOMESTIK BRUTO MENGANDUNG BANYAK PENYESATAN DAN KOTORAN

Percakapan antara Djadjang dan Mamad

Para pejabat tinggi Indonesia berbesar hati, karena dalam resesi global, kondisi ...
Baca selengkapnya »

 
Pidato CGI 2 (dalam bahasa Indonesia)

MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS


PENGGUNAAN BANTUAN ASING SECARA EFEKTIF

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS

Pre-CGI ...
Baca selengkapnya »

Pidato CGI 1 (dalam bahasa Indonesia)

Paparan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
Pada Concultative Group on Indonesia (CGI), Jakarta, 7-8 November ...
Baca selengkapnya »

GAMBARAN FRAUD DAN KEKALUTAN DALAM MENGHADAPI BANK CENTURY

Yang digambarkan dalam tulisan ini atas dasar pemberitaan, pernyataan dan analisis dari sekian banyaknya orang ...
Baca selengkapnya »


Word of The Day

No problem of human destiny is beyond human beings.John F. Kennedy.


Pemilu 2009
»Gugatan hasil Pilpres harus disertai bukti akurat

»KPU harus lakukan kajian yuridis putusan MA


Mencari berita    di   
copyright 2007 - koraninternet.com | powered by IT Media Solution