|
|
 |
KoranInternet mulai sekarang menyajikan layanan baru kepada para pembaca, terutama kepada masyarakat akademis berupa program E-learning yang berisi paparan serial dua bidang mata pelajaran, yaitu Ekonomi Perusahaan dan Tata Buku.
|
|
|

Hasil Pemilu Dan Perubahan
Sebelum pemilu hampir semua orang menginginkan pemilu akan menghasilkan Legislatif dan Eksekutif yang membawa perubahan. Perubahan yang didambakan adalah :
|
|
|
|
 |
|
Tata Buku 11 Jumat, 02 Juli 10 10. Neraca Kolom bagian 2 Setelah neraca saldo tersusun, akan selalu ada kebutuhan melakukan perubahan-perubahan pada angka-angka tertentu sebelum digarap lebih lanjut.
Perubahan-perubahannya harus dimasukkan ke dalam Buku Besar melalui penjurnalan. Karena penjurnalan ini dilakukan sebelum penyusunan neraca dan perincian rugi/laba, maka pos-pos jurnal tersebut disebut “pos-pos jurnal yang mendahului”.
10.1 Pos-Pos Jurnal Yang Mendahului
Dalam bab-bab sebelumnya, kita mengambil alih mentah-mentah (apa adanya) semua angka yang berasal dari neraca saldo ke dalam neraca dan perincian rugi/laba.
Yang merupakan perkecualian hanyalah perkiraan 040 Modal Sendiri dan 041 Prive, yang digarap secara khusus.
Biasanya perlu dilakukan perubahan-perubahan pada angka-angka neraca saldo sebelum neraca dan perincian rugi/laba dapat disusun.
Perubahan-perubahan tersebut perlu dilakukan karena beberapa alasan sebagai berikut :
- Lupa membukukan beberapa data finansial dari periode sebelumnya.
- Beberapa data finansial dari periode sebelumnya salah dibukukan.
- Saldo pada suatu perkiraan buku besar yang membukukan kekayaan (misalnya perkiraan “Kas” dan “Persediaan Barang”) tidak sesuai dengan kenyataan.
Perubahan-perubahan yang kita lakukan pada angka-angka dalam neraca saldo harus dijurnal. Maka penjurnalan ini kita lakukan setelah neraca saldo tersusun, tetapi sebelum menyusun neraca dan perincian rugi/laba. Maka kita namakan “pos-pos jurnal yang mendahului”, karena penjurnal ini dilakukan sebelum kita menyusun neraca dan perincian rugi/laba.
Setelah melakukan penjurnalan yang mendahului dalam jurnal, barulah perkiraan-perkiraan buku besar yang bersangkutan digarap lebih lanjut.
Dengan demikian, angka-angka dari beberapa perkiraan buku besar yang tercantum dalam neraca saldo juga mengalami perubahan. Untuk mencapai tujuan tersebut, neraca saldo ditambah dengan perubahan-perubahannya dijadikan neraca saldo yang telah diubah/disesuaikan dengan kenyataan.
Neraca kolomnya menjadi sebagai berikut: Dalam paragraf berikutnya kita jelaskan menggunakan penjurnalan yang mendahului dengan menggunakan beberapa contoh.
10.2 Pos-pos yang Lupa Dibukukan, dan Karenanya Masih Harus Dibukukan Contoh 1
Sebagian dari neraca saldo per 31 Desember 2009 dari perusahaan dagang “Roda Makmur” sebagai berikut: Setelah neraca saldo disusun baru terungkap bahwa : - Ada penggunaan barang-barang untuk prive sebesar :
Rp. 18.000.000 + Rp. 3.420.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 21.420.000 - Nota kredit yang dikirimkan di bulan Desember telah digarap ke dalam pembukuan. Tetapi data tentang barang yang ditarik kembali tidak dibukukan. Harga pembelian dari barang-barang ini Rp. 45.000.000.
- Ada nota kredit yang lupa dibukukan :
Jumlahnya Rp. 30.000.000 + Rp. 5.700.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 35.700.000 - Saldo-saldo dari perkiraan nomor 180 dan 181 yang belum dikoreksi harus dipindahbukukan ke perkiraan 182 Pajak Penjualan Yang Masih Harus Diserahkan.
Ditanyakan : - Berikan pos-pos jurnal yang mendahului
- Susun neraca saldo yang telah diperbaiki.
Jawaban :


Mengerjakan Penjurnalan yang Mendahului pada Neraca Saldo Awal
Dalam hal pos-pos jurnal yang mendahului tidak terlalu banyak, cara kerjanya juga dibuat lebih sederhana, yaitu koreksinya dikerjakan pada neraca saldo awal dengan menggunakan warna atau tipe huruf yang lain.
Contoh 2
Dalam Neraca Saldo Percetakan “Sejahtera” per 31 Desember 2009, antara lain terdapat perkiraan-perkiraan sebagai berikut:
 Setelah neraca saldo tersusun baru ketahuan bahwa penggunaan barang untuk prive yang telah dibukukan sejumlah Rp. 30.000.000, ternyata lupa memperhitungkan pembebanan pajak penjualan sebesar 6%.
Ditanyakan : - Berikan jurnal yang mendahului
- Garap koreksi yang sudah dilakukan ke dalam neraca saldo
Jawaban : - Jumlah pajak penjualan yang masih harus dibukukan sebesar 6% dari Rp. 30.000.000 = Rp. 1.800.000.
Percetakan “Sejahtera” membuat jurnal yang mendahului sebagai berikut :
041 Prive | Rp. 1.800.000 | | Pada 181 Pajak Penjualan yang Masih Harus Dibayar | | Rp. 1.800.000 | 10.3 Mengkoreksi Pos-pos Jurnal yang Salah
Kita bertitik tolak dari adanya keseimbangan antara debit dan kredit dalam jurnal, buku besar, neraca percobaan dan neraca saldo.
Ketika mengkontrol lebih dalam ternyata bahwa telah dilakukan kesalahan dalam penjurnalan. Kesalahan-kesalahan tersebut dibetulkan dengan membuat pos-pos jurnal yang mendahului, yang dalam hal ini disebut pos-pos jurnal koreksi atau pos-pos koreksi.
Dalam rangka membuat jurnal koreksi kita harus mempertanyakan hal-hal sebagai berikut: - Apa yang seharusnya dijurnal?
- Apa yang kenyataannya dijurnal ?
Koreksinya adalah : (a) – (b), atau Seharusnya – Yang Dilakukan = Koreksi
Contoh 3
Dalam bulan tertentu telah dibayar sewa gudang melalui bank Rp. 8.500.000. Transaksinya dibukukan dengan benar, tetapi jumlahnya Rp. 5.800.000.
Ditanyakan : Buat jurnal koreksinya.
Jawaban :
Yang seharusnya dibukukan : 440 Biaya sewa | Rp. 8.500.000 | | Pada 110 Bank | | Rp. 8.500.000 |
Yang dibukukan : 440 Biaya sewa | Rp. 5.800.000 | | Pada 110 Bank | | Rp. 5.800.000 |
Koreksi yang harus dilakukan pada perkiraan nomor 440 dan 110 adalah sebagai berikut:
440 Biaya sewa
Seharusnya | Debit | Rp. 8.500.000 | Dibukukan | -/- Debit | Rp. 5.800.000 | Koreksi | Debit | Rp. 2.700.000 |
110 Bank
Seharusnya | Kredit | Rp. 8.500.000 | Dibukukan | -/- Kredit | Rp. 5.800.000 | Koreksi | Kredit | Rp. 2.700.000 |
Pos jurnal koreksinya adalah: 440 Biaya sewa | Rp. 2.700.000 | | Pada 110 Bank | | Rp. 2.700.000 |
Menemukan data yang harus dikoreksi, dapat diperoleh dengan membuat tabel sebagai berikut:
Kolom terakhir menunjukkan bagaimana pos jurnal koreksinya harus dibuat Contoh 4
Ketika membukukan sebuah faktur sejumlah Rp. 40.000.000 + Rp. 7.600.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 47.600.000, dibukukan pada perkiraan 181 Pajak Penjualan yang masih dibayar, yang seharusnya Pajak Penjualan yang masih harus ditagih.
Ditanyakan: Buat pos jurnal koreksinya
Jawaban:
Yang seharusnya dibukukan:
| 700 Persediaan barang | Rp. 40.000.000
|
| 180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
| Rp. 7.600.000
|
| Pada 140 Kreditur
|
| Rp. 47.600.000
|
Yang telah dibukukan:
| 700 Persediaan barang | Rp. 40.000.000
|
| 181 Pajak Penjualan yang masih harus dibayar
| Rp. 7.600.000
|
| Pada 140 Kreditur
|
| Rp. 47.600.000
| Perkiraan-perkiraan yang harus dikoreksi kami gambarkan dalam sebuah tabel sebagai berikut:
Pos jurnal koreksinya adalah:
180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih | Rp. 7.600.000
|
| Pada 181 Pajak Penjualan masih harus dibayar
|
| Rp. 7.600.000
| Contoh 5
Faktur dengan jumlah Rp. 23.800.000 (termasuk Pajak Penjualan Rp. 3.800.000) dibukukan dengan jumlah Rp. 32.800.000 (termasuk Pajak Penjualan Rp. 3.800.000)
Ditanyakan : Buat pos jurnal koreksinya
Jawaban:
Yang seharusnya dibukukan:
700 Persediaan barang | Rp. 20.000.000
|
| 180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
| Rp. 3.800.000
|
| Pada 140 Kreditur
|
| Rp. 23.800.000
|
Yang telah dibukukan:
700 Persediaan barang | Rp. 29.000.000
|
| 180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
| Rp. 3.800.000
|
| Pada 140 Kreditur
|
| Rp. 32.800.000
|
Tabel koreksi
Pos jurnal koreksi
140 Kreditur | Rp. 9.000.000
|
| | Pada 700 Persediaan Barang
|
| Rp. 9.000.000
| Contoh 6
Telah dibayar melalui Bank, biaya listrik sebesar Rp. 8.000.000 + Rp. 1.520.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 9.520.000, yang semuanya dibebankan pada perusahaan. Seharusnya, ¼ dari jumlah ini harus dibebankan pada Prive.
Ditanya: Buat pos jurnal koreksinya
Jawaban:
Yang seharusnya dibukukan:
490 Biaya umum (3/4 x Rp. 8.000.000) | Rp. 6.000.000
|
| 180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih (3/4 x Rp. 1.520.000)
| Rp. 1.140.000
|
| 041 Prive (1/4 x Rp. 9.520.000)
| Rp. 2.380.000
|
| Pada 120 Bank
|
| Rp. 9.520.000
| Yang telah dibukukan:
490 Biaya umum | Rp. 8.000.000
|
| 180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
| Rp. 1.520.000
|
| Pada 120 Bank
|
| Rp. 9.520.000
| Tabel Koreksi
Jurnal Koreksi:
041 Prive | Rp. 2.380.000
|
| Pada 490 Biaya umum
|
| Rp. 2.000.000
| 180 Pajak Penjualan yang masih harus ditagih
|
| Rp. 380.000
|
Catatan:
- Pada awal bab ini diasumsikan bahwa kesalahan yang dilakukan baru ketahuan setelah neraca percobaan dan neraca saldo tersusun. Pos-pos jurnal koreksi yang dibuat mempunyai karakter jurnal yang mendahului. Dengan sendirinya bahwa kesalahan penjurnalan yang dibuat dalam periode pembukuan dapat dibetulkan dengan pos-pos jurnal koreksi.
- Aplikasi dari pos-pos jurnal koreksi ke dalam neraca kolom kita bahas dalam bagian 10.5.
10.4 Selisih Kurs dan Selisih Persediaan Barang
Dalam Tata Buku 05 kita kemukakan bahwa barang-barang yang nyata (tangible) yang tercantum pada neraca saldo dapat dikontrol dengan inventarisasi.
Sebagai contoh dari kontrol semacam itu dalam paragraf ini kita bicarakan :
- Kontrol pada persediaan uang tunai
- Kontrol pada persediaan barang
Dengan kontrol tersebut dapat kita ketahui apakah persediaan barang yang tercantum dalam administrasi pembukuan cocok dengan stok barang yang ada.
Andaikan bahwa uang tunai yang tercatum dalam perkiraan 100 Kas sebesar Rp. 64.000.000, sedangkan yang ada di dalam kas sebesar Rp. 62.500.000. Maka ada selisih kas negatif sebesar Rp. 64.000.000 – Rp. 62.500.000 = Rp. 1.500.000.
Kalau selisih ini tidak dapat dijelaskan, kita membuat jurnal sebagai berikut:
480 Selisih kas | Rp. 1.500.000
|
| Pada 100 Kas
|
| Rp. 1.500.000
|
Contoh 7
Neraca saldo perusahaan dagang “Permata” per 31 Desember 2009 adalah sebagai berikut:

Angka-angka dari tabel di atas menunjukkan jumlah uang tunai dan jumlah persediaan barang yang harus ada pada tanggal 31 Desember 2009.
Untuk mengetahui apakah barang-barang tersebut benar-benar ada, pemilik melakukan inventarisasi.
Inventarisasi menemukan bahwa jumlah-jumlah barang yang secara fisik ada adalah sebagai berikut:
Uang tunai di Kas Rp. 40.600.000
Persediaan barang Rp. 338.000.000
(jumlah satuan x harga beli)
Ditanya :
- Hitung posisi pada tanggal 31 Desember 2009:
- selisih kas
- selisih stok barang
Katakan apakah selisihnya negarif (merugikan) atau positif (menguntungkan)
- Buat jurnal koreksinya.
Jawaban: - Posisi tanggal 31 Desember 2009 :
| Kas menurut neraca saldo | Rp. 39.000.000 | | Kas yang ada | Rp. 40.600.000 | | Selisih positif | Rp. 1.600.000 | | Persediaan barang menurut neraca saldo | Rp. 350.000.000 | | Persediaan barang yang ada | Rp. 338.000.000 | | Selisih negatif | Rp. 12.000.000 | - Jurnal koreksinya sebagai berikut:
- untuk selisih kas
100 Kas
| Rp. 1.600.000
|
| Pada 480 Selisih Kas
|
| Rp. 1.600.000
|
- untuk selisih Stok barang:
481 Selisih stok barang
| Rp. 12.000.000
|
| Pada 700 Stok barang
|
| Rp. 12.000.000
|
Catatan:
- Selisih Kas dan selisih Stok barang yang terjadi dan ketahuan sebelum tersusunnya neraca saldo dapat segera dikoreksi dengan cara yang sama.
- Aplikasi jurnal yang mendahului yang mengandung selisih Kas dan selisih Stok barang pada waktu menyusun neraca kolom kita bahas dalam bagian 10.5.
10.5 Sebuah Contoh dari Neraca Kolom dengan Pos-pos Jurnal yang Mendahului Secara Lengkap
Contoh 8
Neraca saldo per 31 Desember 2009 dari sebuah perusahaan dagang “Five Star” sebagai berikut:

Setelah neraca saldo tersusun baru ketahuan bahwa:
- Penggunaan barang untuk keperluan prive sebesar Rp. 20.000.000 + Rp. 3.800.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 23.800.000 belum dibukukan.
- Ketika uang tunai yang ada dihitung ternyata jumlahnya Rp. 30.800.000
- Nota kredit yang dikirimkan dengan jumlah Rp. 8.000.000 + Rp. 1.520.000 (Pajak Penjualan) = Rp. 9.520.000 dijurnal sebagai berikut:
140 Kreditur
| Rp. 9.520.000
|
| Pada 700 Persediaan barang
|
| Rp. 8.000.000
| Pada 181 Pajak Penjualan yang masih harus dibayar
|
| Rp. 1.520.000
|
Tidak terjadi pengembalian barang (retur) -
- Saldo-saldo yang dikoreksi pada perkiraan 180 dan 181 harus dipindah bukukan ke perkiraan 182 Pajak Penjualan yang masih harus diserahkan
- Penerimaan uang restitusi pajak penghasilan melalui Bank sebesar Rp. 15.000.000 untuk pemilik perusahaan dikreditkan pada perkiraan 460 Pajak-Pajak.
- Pada inventarisasi persediaan barang per 31 Desember 2009 nilainya Rp. 1.098.000.000
- Potongan harga yang diberikan sebesar Rp. 16.000.000 dibukukan pada perkiraan 840 Hasil Penjualan, padahal seharusnya dibukukan pada perkiraan 830 Potongan Harga pada Penjualan.
Ditanyakan:
- Berikan pos-pos jurnal yang mendahului
- Susun neraca kolom yang sudah memasukkan ke dalamnya:
- Neraca saldo awal yang telah diberikan per 31 Desember 2009
- Pos-pos jurnal yang mendahului
- Neraca saldo yang sudah diubah per 31 Desember 2009
- Perincian rugi/laba untuk tahun 2009
- Neraca per 31 Desember 2009
Jawaban:


2.  10.6 Neraca Kolom dengan Pos-pos Jurnal yang Mendahului dalam Pembukuan yang Sudah Dikomputerisasi
Dalam pembukuan yang sudah dikomputerisasi kita juga dihadapkan pada keharusan melakukan perubahan-perubahan.
Perubahan-perubahan menjadi keharusan karena telah kelupaan membukukan beberapa data finansial, atau telah terjadi selisih kas dan selisih persediaan barang. Keharusan melakukan perubahan ini sama dan telah kita alami dalam membahas pembukuan secara manual.
Koreksi yang disebabkan oleh kesalahan dalam membukukan jarang terjadi dalam pembukuan yang sudah dikomputerisasi dibandingkan dengan pembukuan yang masih secara manual. Ini disebabkan karena dalam program (software) komputer telah dimasukkan saringan terhadap kesalahan melakukan key in data.
Dalam melakukan key in faktur penjualan atau nota kredit penjualan tidak mungkin terjadi kelupaan membukukan ke dalam perkiraan 180 Pajak Penjualan ditagih, karena programnya dengan sendirinya menggarap perkiraan 181 Pajak Penjualan yang masih dibayar.
Namun komputerisasi tidak dapat menghilangkan terjadinya berbagai kesalahan dalam data yang di-key in. Misalnya, kalau kita meng-key in faktur pembelian senilai 10.000 kita key ini dengan angka 10.000.000, komputer tidak bisa dengan sendirinya mengkoreksinya.
Dalam Tata Buku 05 telah kita pelajari bahwa kesalahan dalam key ini dapat kita kenali dengan print out dari data yang kita key in. Kesalahan yang telah dikenali dapat dengan mudah dikoreksi. Angka yang salah di key in dapat dipanggil dan diganti dengan angka yang benar.
Setelah melakukan koreksi tersebut kita bisa melakukan print out lagi dari data yang baru dimasukkan, dan melalui print out ini kontrol dapat kita lakukan.
Kesalahan-kesalahan yang kita kenali pada tahapan seperti ini dapat kita koreksi dengan cara yang telah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya. Biasanya koreksi dilakukan dengan cara:
- Membukukan kembali data tidak tepat menggantikan yang salah.
- Meng-key in data yang tepat
Jurnal koreksi seperti yang harus dilakukan dalam pembukuan secara manual tidak perlu dilakukan.
Dalam beberapa program, kita bisa melakukan koreksi terhadap data salah yang telah kita key in, yang segera digarap secara otomatis ke dalam pembukuan.
lihat komentar (0) | kirim ke teman | versi cetak
Formulir Komentar
|
|
 |
 Pengantar Redaksi
Dua serial tulisan yang terdahulu, yaitu Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak tahun 1967 dan Pemberantasan KKN telah lengkap kami tayangkan dalam waktu yang cukup lama.
Dalam edisi ini kami menyajikan bahasan tentang Krisis Keuangan maha dahsyat yang terjadi di Amerika Serikat, menjalar ke semua negara di dunia yang sampai sekarang masih berlangsung.
Serial lainnya berjudul "Platform Presiden 2009". KoranInternet mempunyai keseluruhan materinya, yang akan kami terbitkan dalam bentuk buku yang dapat diperoleh siapa saja yang berminat.
Dengan memuat materi yang sama dalam bentuk rangkaian artikel di KoranInternet, para pembaca dapat membacanya, sambil setiap harinya membaca berita dan peristiwa.
Pembaca E-Learning yang kami sajikan dalam bidang Tata Buku dan Ekonomi Perusahaan semakin lama semakin banyak.
Banyak terima kasih atas perhatian Anda.
Redaksi.
|
|

| Sri Mulyani Indrawati (SMI), Berkeley Mafia, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), IMF Dan World Bank (WB) Mundurnya Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai Menteri Keuangan RI menimbulkan kehebohan dan banyak pertanyaan tentang ... Baca selengkapnya » | Pidato CGI 4 (dalam bahasa Inggris)MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS
ADDRESS AT THE PRE-CGI MEETING
Jakarta, 10 December 2003
State Minister for ... Baca selengkapnya » | | | Pidato CGI 3 (dalam bahasa Inggris)MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS
IMPROVING GOVERNANCE
Consultative Group for Indonesia
Bali, 22 January, 2003
Kwik Kian Gie
Mr. ... Baca selengkapnya » | | | Pidato CGI 2 (dalam bahasa Inggris)MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS
EFFECTIVE USE OF FOREIGN AID
Minister of Development Planning/Head of Bappenas
Pre-CGI ... Baca selengkapnya » | Pidato CGI 1 (dalam bahasa Inggris)MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS
Statement of the State Minister for National Development Planning/
Chairman of ... Baca selengkapnya » | | SKANDAL BANK CENTURY - Mengapa Menimbulkan Banyak Keresahan dan Kemarahan? PENGANTAR
Pemeriksaan oleh Pansus Bank Century berlangsung secara terbuka yang diliput oleh media ... Baca selengkapnya » | | PRODUK DOMESTIK BRUTO MENGANDUNG BANYAK PENYESATAN DAN KOTORAN Percakapan antara Djadjang dan Mamad
Para pejabat tinggi Indonesia berbesar hati, karena dalam resesi global, kondisi ... Baca selengkapnya » | | | Pidato CGI 2 (dalam bahasa Indonesia)MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS
PENGGUNAAN BANTUAN ASING SECARA EFEKTIF
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS
Pre-CGI ... Baca selengkapnya » | Pidato CGI 1 (dalam bahasa Indonesia)Paparan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
Pada Concultative Group on Indonesia (CGI), Jakarta, 7-8 November ... Baca selengkapnya » | | GAMBARAN FRAUD DAN KEKALUTAN DALAM MENGHADAPI BANK CENTURY Yang digambarkan dalam tulisan ini atas dasar pemberitaan, pernyataan dan analisis dari sekian banyaknya orang ... Baca selengkapnya » |
|

Word of The Day
No problem of human destiny is beyond human beings.John F. Kennedy.
|
|

|